Kategori
BUSSINESSS

Survei Penggunaan Aplikasi Keuangan Naik 8,9 Persen Selama Pandemik

Survei Penggunaan Aplikasi Keuangan Naik 8,9 Persen Selama Pandemik

Survei Penggunaan Aplikasi Keuangan Naik 8,9 Persen Selama Pandemik – Adjust, platform pemasaran aplikasi global dan Apptopia, penyedia informasi aplikasi meluncurkan Laporan Keuangan Seluler 2020.  Dari survei menunjukkan jumlah sesi dan instalasi aplikasi pada kategori keuangan meningkat signifikan pada 2020. Waktu yang terhabiskan pengguna untuk menggunakan aplikasi tersebut juga turut meningkat pada tingkat global.

Pada paruh pertama 2019, pengguna rata-rata menghabiskan 7,7 menit per sesi dalam aplikasi. Kemudian, pada 2020 jumlah tersebut meningkat menjadi 8,35 menit, yakni meningkat sebesar 8,9 persen.

1. Penggunaan fintech meningkat pesat saat lockdown terberlakukan

Data Adjust menyebutkan peningkatan paling signifikan dari segi waktu yang terhabiskan. Untuk menggunakan aplikasi pada sektor fintech terjadi pada Q2 2020. Saat lockdown mulai berlakukan pada seluruh dunia. Terlansirkan dari http://katerinefrancisetsespeintres.com/

Dari negara-negara yang teranalisis dalam laporan ini, Argentina berhasil meraih pertumbuhan paling tinggi. Dari segi waktu yang telah habiskan untuk menggunakan aplikasi dari tahun-ke-tahun —meningkat 72 persen. Terikuti Ukraina 62 persen, Rusia dan Brasil yang meningkat 50 persen, dan Jepang 21 persen.

Negara-negara dengan industri perbankan yang lebih mapan memiliki user yang menggunakan aplikasi dalam waktu yang tidak lama. Sebab, mereka bisa menggunakan fungsi perbankan melalui layar desktop atau pada kantor cabang terdekat. Aplikasi yang menargetkan unbanked user cenderung menawarkan pendekatan yang lebih mendidik, yang membuat user menggunakan aplikasi dengan lebih lama.

“Inklusi keuangan dan finansial literasi merupakan isu yang cukup besar, terutama untuk masyarakat yang tinggal pada kota-kota kecil dan pedesaan,” ungkap Vicky Saputra, CEO of Indonesian fintech Netzme.

2. Sektor perbankan di negara berkembang akan meningkat pesat

Jepang memimpin dari segi jumlah unduhan aplikasi perbankan pada antara negara-negara yang teranalisis dalam laporan ini, tetapi juga merupakan outlier. Tingkat instalasi pada berbagai negara maju lainnya justru menurun dalam 12 bulan terakhir, menurut data Apptopia.

“Walau pun tren ekonomi umum menyebutkan ini merupakan masa sulit bagi banyak aplikasi perbankan utama pada negara maju, pasar negara berkembang masih menyediakan peluang bagi aplikasi keuangan internasional untuk terus bertumbuh,” kata Adam Blacker, VP of Insights Apptopia. “Sektor perbankan bertumbuh paling pesat pada negara-negara seperti Turki, Ukraina, dan Brasil,” lanjutnya.

3. Biaya akuisisi aplikasi perbankan dan pembayaran menurun drastis

Bersamaan dengan perubahan ekonomi dan sosial akibat pandemik COVID-19, biaya akuisisi untuk aplikasi perbankan dan aplikasi pembayaran telah menurun drastis. Sejak Februari, eCPI (Biaya Efektif per Instalasi) menurun 77 persen pada Mei, biaya akuisisi pengguna untuk aplikasi perbankan hanya sepersekian dari biaya akuisisi pengguna pada awal tahun.

Sebagai informasi, laporan keuangan seluler global memanfaatkan data internal dari Adjust dan Apptopia selama 1 Januari 2020 hingga 30 Juni 2020, membandingkannya dengan data untuk periode yang sama pada 2019.

Laporan ini menganalisis lebih dari 270 aplikasi keuangan—termasuk sub-kategori perbankan, pembayaran dan investasi—pada Amerika Serikat, Rusia, Ukraina, Turki, Brasil, Jerman, Inggris, Jepang, dan Argentina.

Laporan tersebut fokus pada pertumbuhan tingkat instalasi dan jumlah sesi, berapa banyak waktu yang menghabiskan pengguna untuk menggunakan aplikasi, dan tingkat retensi untuk kategori ini.

Kategori
Uncategorized

Meski Dilarang Masuk ke 59 Negara, RI Tetap Usulkan Travel Corridor

Meski Dilarang Masuk ke 59 Negara, RI Tetap Usulkan Travel Corridor

Meski Dilarang Masuk ke 59 Negara, RI Tetap Usulkan Travel Corridor – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali mengusulkan agar kawasan Asia Tenggara (ASEAN) mulai pelan-pelan membuka pintunya untuk kedatangan warga ASEAN lainnya pada tengah pandemik. Usulan yang telah beri istilah “travel corridor’ itu terusulkan bagi perjalanan d’inas dan ekonomi. Hal itu tersampaikan oleh Retno pada pembukaan pertemuan Menlu se-Asia Tenggara (ASEAN Ministerial Meeting) pada Rabu, 9 September 2020.

Usulan serupa sudah pernah tersampaikan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo ketika menyampaikan pandangannya pada KTT virtual pertama ASEAN pada 26 Juni 2020 lalu. Menurut Jokowi, dengan terbukanya pintu kedatangan untuk pendatang secara terbatas bisa mempercepat upaya pemulihan pada kawasan ASEAN.

“Usulan Indonesia untuk membuat ASEAN Travel Corridor masih terbatas untuk essential business. Per hari Rabu, usulan tersebut masih terus terbahas,” ungkap Retno ketika memberikan keterangan pers virtual pada Kamis, (10/9/2020).

Akibat kondisi pandemik yang justru memburuk, pertemuan para Menlu se-ASEAN harus melakukan melalui virtual. Kondisi pandemik pada Tanah Air yang terus memburuk menyebabkan negara ASEAN menutup pintu bagi semua warga asing, termasuk dari Indonesia. Sedikitnya ada lima negara pada kawasan Asia Tenggara yang menutup pintu bagi WNI yaitu Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, dan Vietnam.

Apakah penolakan negara-negara ASEAN bagi warga yang datang dari negara yang terjangkit bisa menjadi solusi bagi penyelesaian pandemik?

1. RI sudah menyampaikan rancangan pertama untuk kesepakatan ASEAN travel corridor

Dalam pemberian keterangan pers hari ini, Retno menyampaikan Indonesia sudah menyampaikan rancangan pertama mengenai ASEAN travel corridor. Retno mengklaim dalam pertemuan virtual yang menggelar secara tertutup itu, inisiatif Indonesia mengenai ASEAN travel corridor mendapatkan apresiasi.

Melansikan dari http://katerinefrancisetsespeintres.com/ . “Apresiasi juga tersampaikan pada dalam laporan Sekjen ASEAN pada pertemuan AMM (ASEAN Ministerial Meeting),” kata Menlu perempuan pertama pada Indonesia itu.

Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi yang intensif pada antara anggota negara ASEAN untuk menghindari kebijakan-kebijakan mendadak yang dapat merusak bangunan kerja sama yang sudah lama membangun oleh organisasi tersebut. Meski tak tersebut, namun terduga kebijakan yang memaksud terilis oleh Malaysia.

Sejak 7 September 2020, Pemerintah Malaysia melarang warga dari 23 negara masuk ke negaranya. Menteri Senior Ismail Sabri Yaakob mengatakan warga dari 23 negara itu tak memberi akses masuk lantaran kasus COVID-19 pada masing-masing negaranya tergolong tinggi. Data dari situs World O Meter per 10 September 2020 menunjukkan kasus COVID-19 sudah melonjak menjadi 207.203, yang mana 8.456 orang meninggal dunia dan 147.510 pasien berhasil sembuh.

2. Indonesia tengah melobi Singapura agar bersedia membuka pintu bagi Indonesia

Salah satu negara ASEAN pertama yang dilobi Indonesia agar bersedia membuka pintunya untuk perjalanan terbatas adalah Singapura. Hal itu lantaran Negeri Singa merupakan investor terbesar bagi Indonesia. Nilainya mencapai US$4,7 miliar untuk semester I di tahun 2020. Angka itu mengalami kenaikan 36,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Untuk itu Menlu Retno terbang ke Singapura 25 Agustus 2020 lalu dan menemui mitranya, Menlu Vivian Balakhrisnan. Di dalam pertemuannya dengan Vivian, Retno menggarisbawahi tak akan mengabaikan faktor kesehatan bila travel corridor akhirnya disepakati.

“Kedua Menlu telah melakukan pertukaran elemen masing-masing konsep yang dimiliki oleh kedua negara. Kedua Menlu sepakat menugaskan tim untuk memulai negosiasi pada kesempatan pertama,” kata Kemenlu pada akhir Agustus lalu.

Salah satu yang tersorot untuk perjalanan antar negara yakni tes swab atau PCR. Negeri Singa mewajibkan semua warganya yang kembali dari luar negeri untuk menjalani tes tersebut pada bandara. Namun hingga kini, Negeri Singa belum memberikan respons soal pengajuan travel corridor Indonesia.

Sejauh ini Indonesia sudah berhasil meneken kesepakatan travel corridor dengan tiga negara yaitu Uni Emirat Arab, Korea Selatan dan Tiongkok.

3. ASEAN kritik tidak kompak dalam menghadapi pandemik COVID-19

Sementara, dalam pandangan ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Brisbane Australia, ASEAN tidak kompak dalam menghadapi pandemik COVID-19. Masing-masing negara terlihat berjalan sendiri-sendiri untuk melawan pandemik yang telah menewaskan 908 ribu orang pada seluruh dunia itu.

“Bila ASEAN berjalan dengan strategi masing-masing ini sebenarnya akan merugikan ASEAN juga karena mereka tidak seperti Uni Eropa yang bisa relatif seragam. Penurunan kasus COVID-19 pada Uni Eropa bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan,” ungkap D’icky.

D’icky menggarisbawahi dalam mengatasi pandemik, tidak bisa hanya teratasi oleh satu negara saja. Apalagi lokasi negaranya berdekatan seperti pada kawasan ASEAN. Ia pun menyarankan adanya kolaborasi regional.

“Misalnya ketika ASEAN berkolaborasi menghadapi HIV, avian flu (flu burung). Indonesia ketika itu berkolaborasi dengan Vietnam. Padahal, ketika pandemik avian flu, Indonesia jadi episentrum dunia. Memang pembatasannya tidak seketat saat ini, karena karakter avian flu lebih mudah medeteksi, tidak terdominasi OTG,” tutur ia.

Ia juga menilai penutupan yang lakukan oleh Singapura dan Malaysia saat ini sulit melakukan secara konsisten. Sebab, celah menuju ke pintu masuk akan selalu ada. Hanya butuh satu orang saja yang menyelinap masuk dan ia bisa menyebarkan pandemik.

“Makanya membutuhkan kolaborasi dari tingkat bawah hingga ke regional. Ketika regional bisa mengatasi, maka kita bisa pulih dan membangun lagi bersama-sama,” ujarnya lagi.

Kategori
Recreation

Cegah Stres, Wisma Atlet Siapkan Ruang Rekreasi bagi Pasien COVID-19

Cegah Stres, Wisma Atlet Siapkan Ruang Rekreasi bagi Pasien COVID-19

Cegah Stres, Wisma Atlet Siapkan Ruang Rekreasi bagi Pasien COVID-19 – Wakil Kepala Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad) Brigjen TNI Agung H Hermawanto mengatakan pemerintah kini sedang menyiapkan ruang rekreasi pada Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet. Langkah ini terambil agar pasien positif virus corona yang terkarantina atau isolasi tidak stres.

“Kami punya lantai 3, masih kosong. Akan kami upayakan untuk mengurangi kejenuhan. Akan kami siapkan sebagai sarana rekreasi tapi dalam konteks jarak jaga aman untuk penyebaran COVID-19,” kata Agung seperti tersiarkan live oleh Kompas TV, Jumat (27/3). Lansirkan dari http://katerinefrancisetsespeintres.com/

1. Ada treadmill sampai televisi

Pada ruangan rekreasi itu nantinya akan terisi oleh peralatan seperti treadmill dan televisi, serta CCTV untuk mengawasi pasien.

“Ada fasilitas semacam treadmill, olahraga ringan, nonton TV, tapi jaga jarak aman ini kami laksanakan. Jadi tidak ada petugas kami  sana. Hanya tempat itu tertutup dan udara terbuka,” ujar Agung.

2. Akses WiFi bagi pasien

Beritakan sebelumnya, pasien juga perbolehkan membawa keperluan pribadi mereka seperti pakaian dan laptop. Pada RS itu, pemerintah melalui Telkom sudah menyiapkan jaringan WiFi yang bisa terpakai oleh pasien untuk menonton TV melalui laptop pada kamar.

“Bisa sampaikan ke keluarga untuk kirimkan misalnya laptop untuk bisa bekerja atau kirim pakaian atau kirim hal-hal yang bersifat pribadi, sehingga pasien bisa nyaman dalam ruang perawatan,” kata Agung.

3. Pasien perbolehkan jalan-jalan

Agung juga memastikan pasien bisa berjalan pada lorong tempat mereka terisolasi. Bahkan kamar pasien tidak akan terkunci.

“Jangan khawatir pada sini akan seperti terkungkung. Pasti terkungkung karena sebelumnya kita biasa pada luar. Pasien bisa jalan keluar karena kami siapkan pada masing-masing ruangan tersebut ada d’ispenser untuk minum,” ujarnya.

Nah, untuk kalian yang sekarang sedang menjalanakan isolasi mandiri di Wisma Atlet jangan khawatir ya , jika kalian bosan di dalam kamar isolasi, kalian juga perbolehkan melakukan beberapa rekreasi atau aktifitas yang di ada guna agar kalian tidak stress dan dapat membuat kalian lebih rilex menjalankan isolasi. Untuk kalian yang terkena Covid-19 cepat pulih ya.